Monday, 25 November 2013

TITRASI REDOKS

                                                                       TITRASI REDOKS
                                              ( PENENTUAN BESI )

1. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan standarisasi dan penentuan cuplikan dengan titrasi redoks
.
2. PERINCIAN KERJA
1. Melakukan standarisasi larutan KMnO4
2. Menentukan kadar besi dalam larutan
3. DASAR TEORI
Titrasi redoks merupakan titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi antara
analit dan titran. Titrasi redoks banyak digunakan untuk penentuan sebagian besar logam-logam. Indicator yang digunakan pada titrasi ini menggunakan berbagai cara kerja. Pada titrasi yang menggunakan KMnO4 tidak menggunakan suatu larutan indicator, tetapi larutan KMnO4 itu sendiri dapat bertindak sebagai indicator.
Beberapa titrasi redoks menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks yang melibatkan iodine. Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks jika kedua indicator diatas tidak dapat diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin. Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah iodimetri. Iodometri, permanganometri menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan Oksalat, Kalium dikromat dipakai untuk titran penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl. Bromat dipakai sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai I2 yang dititrasi dengan tiosulfat.), dan Cerium(IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks penentuan ferosianida dan nitrit.
Titik akhir dari suatu titrasi redoks dapat dilakukan dengan mebuat kurva titrasi antara potensial larutan dengan volume titran atau dapat juga menggunakan indicator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai indicator contohnya penentuan oksalat dengan permanganate, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat.
3.1 Kalium Permanganat
Kalium permanganat digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Zat ini merupakan pereaksi yang mudah diperoleh, tidak mahal dan tidak memerlukan suatu indicator kecuali kalau digunakan larutan-larutan yang sangat encer. Satu tetes KMnO4 0,1 N memberikan suatu warna merah muda yang jelas pada larutan dalam titrasi. Permanganat mengalami reaksi kimia yang bermacam-macam, karena mangan dapat berada dalam keadaan-keadaan oksidasi +2, +3, +4, +5, +6, +7. Untuk reaksi yang berlangsung dalam larutan yang asam akan terjadi reaksi :
MnO4 -+ 8H­­­­+ + 5e Mn 2++ 4H­2O
Sedangkan untuk reaksi dalam larutan berasam rendah :
MnO4 -+ 8H­­­­+ + 3e MnO2 + 2H­2O
Reaksi yang paling banyak digunakan adalah reaksi pada larutan yang sangat asam, dimana permanganat bereaksi dengan sangat cepat.
3.2 Natrium Oksalat
Senyawa ini merupakan standar primer yang baik bagi permanganat dalam larutan berasam. Dapat diperoleh dalam derajat kemurnian yang tinggi, stabil pada pemanasan dan tidak higroskopis. Reaksi dengan permanganat agak komplek dan sekalipun banyak penelitian yang telah dilakukan, namun mekanisme yang tepat tidak jelas. Reaksinya lambat pada suhu kamar. Oleh kareana itu biasanya larutan dipanaskan pada suhu 600C. Pada kenaikan suhu, pada awalnya reaksi berjalan lambat, tetapi kecepatan meningkat setelah ion mangan (II) terbentuk. Mangan (II) bertindak sebagai suatu katalis dan reaksinya dinamakan otokatalitik karena katalis dihasilkan oleh reaksinya sendiri. Ionnya mungkin mempengaruhi efek katalitiknya dengan cepat bereaksi dengan permanganat untuk membentuk mangan dari keadaan oksidasi antara +3 dan +4 yang selanjutnya dengan cepat mengoksidasi ion oksalat, kembali keadaan divalent. Adapun reaksinya adalah :
 5C2O42- + 2MnO4 + 16H+ 2Mn 2+ + 10 CO2 + 8H2O
Fowler dan bright melakukan suatu penelitian yang sangat mendalam terhadap kesalahan-kesalahan yang mungkin didalam titrasi. Mereka menemukan beberapa bukti dari pembentukan peroksida
O2 + H2C2O4 → H2O2 + 2 CO2
Dan apabila perioksida terurai sebelum bereaksi dengan permanganat, terlalu sedikit larutan permanganat yang diperlukan sehingga dari perhitungan normalitasnya tinggi. Mereka menyarankan agar hampir semua permanganat ditambahkan dengan cepat dalam larutan dipanaskan sampai 60 0C dan titrasi diselesaikan pada suhu ini.
4. ALAT YANG DIGUNAKAN
• Kaca Arloji 2 buah
• Erlenmeyer 250 ml 6 buah
• Buret 50 ml 2 buah
• Pipet Ukur 25 ml 4 buah
• Gelas Kimia 100 ml, 250 ml 2 buah
• Labu Takar 100 ml, 250 ml, 500 ml 2 buah
• Spatula 2 buah
• Bola Karet 4 buah
• Hot Plate 2 buah
• Termometer 2 buah
5. BAHAN YANG DIGUNAKAN
• Na2C2O4 padatan
• H2SO4 pekat
• KMnO4 padatan
• FeSO4.7H2O padatan
6. PROSEDUR PERCOBAAN
6.1 Standarisasi Larutan KMnO4
• Membuat larutan 0,1 N KMnO4
• Mengeringkan Natrium Oksalat dalam Oven pada suhu 105-110 oC selama 2 jam
setelah itu mendinginkannya dalam desikator.
• Menimbang Natrium Oksalat sebanyak 300 mg dan memasukkannya kedalam
erlenmeyer.
• Melarutkan 12,5 ml H2SO4 pekat dalam 250 ml air ( hati-hati )
• Memasukan larutan H2SO4 kedalam erlenmeyer yang berisi Natrium Oksalat.
Mengkocoknya dan mendinginkannya sampai 24 oC.
• Mentitrasi dengan 0,1 N KMnO4 sampai volume 35 ml. lalu dipanaskan sampai
50-60 oC. dan melanjutkan titrasi setetes demi setetes hingga berubah warna yaitu
merah muda.
6.2 Penentuan Besi Dengan KMnO4
• Melarutkan 4 gram cuplikan FeSO4.7H2O dalam air demineral 100 ml.
• Memipet 15 ml larutan cuplikan kedalam erlenmeyer 250 ml dan menambahkan
25ml 0,5 M H2SO4.
• Mentitrasi dengan larutan standar 0,1 N KMnO4 sampai warna merah muda tidak
berubah lagi.
7. DATA PENGAMATAN
Tabel 1 Data Standarisasi larutan KMnO4
No.
Gram Analit
(Natrium Oksalat)
Volume Titran
( KMnO4 )
Perubahan Warna
1.
2.
3.
300 mg
300 mg
300 mg
Rata –rata
40 ml
( 35 ml + 5 ml)
41 ml
( 35 ml + 6 ml)
42 ml
( 35 ml + 7 ml)
41 ml
Pada saat standarisasi larutan, •menghasilkan warna ungu pekat. Setelah dititrasi dengan KMnO4warna larutan berubah menjadi warna merah keunguan(seharusnya warna bening.) Setelah dipanaskan pada suhu 60oC dititrasi kembali setetes demi setetes menghasilkan warna larutan menjadi merah muda.
Tabel 2 Data Penentuan Besi dengan KMnO4
No.
Volume Analit
(FeSO4.7H2O)
Volume Titran
( KMnO4 )
Perubahan Warna
1.
2.
3.
4.
15 ml
15 ml
15 ml
Rata –rata
17 ml
16 ml
17 ml
16,6 ml
Warna awal berwarna kuning, setelah dititrasi menjadi warna merah muda dan tidak terjadi perubahan warna lagi.dan pada proses ini jugo terjadi 2 fase perubahan warna warna bening ke ungu pekat(volume titran 5,5 ml)dan dari ungu pekat menjadi warna merah muda(volume titran 17 ml)
8. PERHITUNGAN
KMnO4 + FeSO4 + H2SO4 → MnO + Fe 3+
n = 5
+7 +2
+2 +3
1.*Standarisasi Larutan KMnO4
A. Menentukan Normalitas KMnO4
Gr KMnO4 = V KMnO4 x N KMnO4
BE KMnO4
rata –rata volume KMnO4 = 40 ml + 41 ml + 42 ml = 41 ml
* N KMnO4 (1) = gr KMnO4
 BE KMnO4 x V KMnO4
 = 0,3 gr
67 gr/grek x 0,041 liter
= 0,109 
% kesalahan = praktek - teori x 100 %
praktek
= 0,109  - 0,1  x 100 %
0,109 
= 3 %
B.Penentuan Besi dengan KMnO4
% Fe(1) = V KMnO4 x KMnO4 x BE Fe x 100
gr sampel x jumlah analit
rata –rata volume KMnO4
 = 17 ml + 16 ml + 17 ml = 16,6 ml
= 0,0166 liter x 0,109 grek/liter x 55,8 x 100
0,6 gr
= 16,82 %
C. Pembuatan larutan
Ø 0,5 M H2SO4 100 ml
M =
= 
= 18,4 M
V1.M1 = V2.M2
V1.18,4=100.0,15
V1=
= 2,7 ml
Ø 0,1 N KMnO4 0,25 l (250 ml)
Gr = M.V. Mr
=0.1. 0,25 L .158
= 3,95 gr
NB : Dimana 0,1 N KMnO4
M = 
=
=0,1
9. PERTANYAAN
  1. Tuliskan beberapa keuntungan dan kerugian dalam penggunaan larutan standar
KMnO4 sebagai pereaksi oksidasi.
  1. a. Mengapa pada standarisasi dengan Natrium Oksalat, KMnO4 diberikan
secara cepat?
b. Mengapa larutan tersebut harus dipanaskan sampai 60 oC ?
Pembahasan :
  1. Keuntungannya :
•Harganya murah.
•KMnO4 mudah diperoleh.
•Dengan menggunakan larutan standar KMnO4 tidak perlu menggunakan
Indicator lagi, kecuali bila menggunakan larutan yang sangat encer.
•KMnO4 mempunyai keadaan oksidasi yang berbeda-beda.
Kerugiannya :
•Reaksinya lambat dalam larutan encer pada suhu kamar.
•Dalam suasana basa akan membentuk endapan coklat MnO2 yang mengganggu.
•Dalam persiapan larutannya dibutuhkan langkah-langkah yang rumit.
2. a. Pada standarisasi dengan Natrium Oksalat, KMnO4 diberikan
secara cepat karena jika perioksida itu terurai sebelum bereaksi dengan
permanganat maka larutan permanganat terlalu sedikit yang digunakan dan
normalitasnya akan dijumpai lebih tinggi.
b. Karena untuk menghindari pembentukan perioksida yang dihasilkan dari
uraian sebagian oksalat, maka dari itu larutan tersebut harus dipanaskan sampai
60 oC.
DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet, Penuntun Praktikum Kimia Analisis Dasar “Titrasi Redoks ( Penentuan Besi )”

.2010.Palembang: Polsri

Monday, 4 November 2013

ANALISA ANION

ANALISA ANION


I. Tujuan Percoban
·        Mengenal sifat-sifat unsur dan ion-ionnya dalam larutan melalui pengamatan
·        Melakukan analisis anion dalam suatu cuplikan melalui penentuan golongan dan tes khusus (specific test).

II.  Dasar Teori
Analisa kualitatif adalah analisa yang dilakukan untuk mengetahui unsure apa yang terdapat pada suatu sampel. Analisa kualitatif untuk zat anorganif terdiri dari :
1.      Analisa Anion
2.      Analisa Kation
Pada analisis anion, anion yang dipelajari adalah sebagai berikut :
Cl-, Br-, I-, SCN-, S2-, CO32-, SO42-, PO42-, CrO42-, MnO4-, NO2-, asetat oksalat. Tahapan anaisis kualitatif yang dilakukan adalah sebagai berikut :

A.       Analisis Pendahuluan
          Pada cuplikan dilakukan “pemeriksaan pendahuluan” yaitu pengamatan fisika yaitu warna, bau, bentuk Kristal dan test kelarutan dalam air.
          Beberapa anion bereaksi dengan asam basa atau bereaksi secara reduksi oksidasi sering menghasilkan perubahan warna atau menghasilkan gas.

Anion
Reagen : H2SO4 (6M)                 HNO3 (6M)                    HCL(6M)
CO32-
Dengan pereaksi tersebut tanpa dipanaskan akan dihasilkan gas CO2 yang tidak bewarna dan tidak berbau
SO32-
Dalam keadaan tanpa dipanaskan akan terjadi pergolakan pada larutan, dihasilkan gas SO3 dengan bau yang khas seperti hasil bakaran sulfur (S), tanpa warna
NO3-
- tanpa dipanaskan akan terjadi pergolakan (mendidih)
- dihasilkan gas NO2 warna coklat
- larutan warna biru bila digunakan reagen H2SO4 dan HNO3, dan akan bewarna kuning bila dengan HCl
I-
Bila digunakan HNO3 tanpa pemanasan akan dihasilkan larutan bewarna kuning dan gas I2 bewarna ungu. Bila direaksikan dengan pemanasan maka akan dihasilkan larutan bewarna gelap dan dengan asam sulfat dipanaskan akan dihasilkan larutan kuning. Dengan asam nitrat dipanaskan akan dihasilkan larutan bewarna jingga dan gas bewarna jingga.

Br-
Dengan asam nitrat dipanaskan terjadi pergolakan dengan cepat, dihasilkan gas NO2 newarna coklat
SCN-
Dengan asam sulfat dan HCL maka pergolakan akan lebih sedikit
CrO4-
Dihasilkan larutan bewarna kuninng dari semua reagen tanpa pemanasan
S2-
Dihasilkan gas H2S dean semua reagen tanpa pemanasan dengan HNO3 dihasilkan gas NO3 bewarna coklat dan larutan keruh
C2H3O-
Dengan semua reagen, asam yang dilarutkan berbau asam cuka. Mudah untuk mendeteksi, masukan batang pengaduk dalam larutan panas kemudian cium baunya.
Pemanasan dilakukan dengan gelas kimia yang berisi air mendidih (water batch).

B.       Pemeriksaan Anion secara Sistematis (golongan)
Gol
AgNo3 0,1M endapan yang terjadi
Ba(NO3)2 0,1 M endapan yang terjadi
Anion
1
↓ putih kuning, tidak larut dalam asam nitrat 1M
Tidak ada endapan
Cl-, Br-, I-, SCN-
2
↓ larut dalam asam nitrat 1M
Tidak ada endapan
S22, NO22-
3
↓ putih larut dalam HNO3 1M
↓ putih larut dalam HNO31M
SO32-
4
↓ cokelat keemasan, larut dalam asam nitrat
↓ putih larut dalam HNO31M
PO42, CrO42-
5
Tidak ada endapan
Tidak ada endapan
MnO4-
6
Tidak ada endapan
↓ putih, tidak larut dalam asam nitrat 1M
SO42-
Setelah golongan anion ditemukan, maka dilakukan tes spesifik.
C.       Analisis Anion dengan reaksi spesifik
a.      Cl-
Ag+  +  Cl-                                  AgCl(s)  ↓  putih Larut dalam  
                                                                                            amoniak berlebih
b.      Br-
Ag+  +  Br-                                  AgBr(s)  ↓  kuning putih
                                                                                           Larut dalam (NH4)2 CO2
Larutan Br- akan mereduksi MnO4- menjadi Mn2- dalam suasana asam menghasilkan Br2 yang bewarna orange.
10 Br-(aq) + 2 MnO4- + 16 H+ + 2 Mn2+(aq) ditambahkan larutan cakbon tetra klorida. Br2 dapat larut dalam CCL4menghasilkan warna kecoklatan.
c.      I-
Ag+  +  I-                                                 AgI ↓ kuning larut               
                                                                                                        dalam (NH4)2 CO3
Fe3+  +  I-                                                1/2 I2  +  Fe2+ coklat
I2 dapat membirukan larutan kanji atau I2 dalam CCl4menghasilkan warna ultra violet.
d.      SCN-
Fe3+  +  3SCN-                                                Fe(SCN)3  ↓ merah bata

e.      S2+
Pb2+  +  S2-                                                PbS(s)  ↓  hitam
f.       NO2-
NO2- + Fe3+ + 2H+                                                NO + Fe3++ H2O
g.      CH3COO-
CH3COONa + KHSO4                                                           CH3COOH + NaKSO4
h.      SO32-
2 (MnO4) + 5 (SO3)2- + 6 H+                                  NO + Fe3+ + H2O + 3 H2O
 (CrO2)2- + 3 (SO3)2- + 8 H+                                 2 Cr2+ + 3 (SO4)2- + 4 H2O


i.        CO32-
CO32- + Ca2+                                                 CaCo(s) ↓  putih
Endapan ini larut dengan asam kuat (keluar gas Co2)
CaCo3 + 2 HCl                                           CaCl2 + H2O + CO2(g)
j.        PO42-
Mg2+ + (NH4)+ + (PO4)-                            Mg (NH4)(PO4) ↓ putih
12 (NH4)2 MoO4 + 23 H+ + PO43-                         (NH4)2[PMo12O40]5 ↓ H2O
k.      C2O42-
Ca2+ + C2O42-                                                CaC2O4
  5 (COO)22- + 2 (MnO4)- + 16 H+                             10 CO2+ 2Mn2+ + 8 H2O
l.        MnO4-
Sama dengan oksalat
MnO4 bila direaksikan dengan ion SO22- dalam suasana asam akan menghilangkan warna ungu dari MnO4-
2 (MnO4)- + 5 (SO3)2- + 6 H+                             2Mn2+ + 5 (SO4)2- + 3 H2O
m.    SO42-
Ba2+ + SO42-                         BaSO4(s) ↓  putih, tidak larut dalam asam kuat
n.      CrO42-
2 Ag+ + (CrO4)2-                                    Ag2CrO4(s) ↓  putih
Tidak larut dalam asam asetat tetapi larut dalam asam kuat dan amoniak

D.       Reaksi Identifikasi Anion
a.      Cl-
1 ml cuplikan + 1 ml AgNO3                                   ↓ putih
b.      Br-
1 ml cuplikan + 1ml AgNo3                          ↓ putih kekuningan
1 ml cuplikan + 4 tetes H2SO4 2M + 1 ml KMnO40,2M                    menghasilkan warn  
                                                                                                           merah coklat dari     
                                                                                                           Br2 dapat larut dalam  
                                                                                                     CCl4 dengan warna coklat
c.      I-
1 ml cuplikan + 1 ml AgNO3                             ↓ kuning muda
1 ml cuplikan + 1ml FeCl2 0,1M setelah 1 menit menghasilkan endapan coklat kemerahan. Bila ditambahkan CCl4 menghasilkan 2 fase larutan. Bagian bawah violet dan atas coklat kemerahan
d.      SCN-
1 ml cuplikan + 1/2 ml FeCl3 0,1M                                  merah tua
e.      S2-
1 ml cuplikan + 1/2 ml Pb(NO3)2 0,1M + 2 tetes HCl 2M                  ↓ hitam
f.       NO22-
·      1 ml cuplikan + 2 tetes H2SO4 2M + 1 ml KI 0,1 M menghasilkan larutan coklat dengan endapan hitam yang larut dalam CCl4 yang menghasilkan warna violet
·      1 ml cuplikan + 1 ml FeSO4 + 3 tetes H2SO4 2M menghasilkan larutan coklat bening, setelah semenit menjadi coklat tua


g.      CH3COO-
Seujung spatula cuplikan + 1 spatula K2SO4 digerus dalam mortar, amati baunya
h.      SO32-
· Seujung spatula cuplikan + 5 tetes KMnO4 + 3 tetes H2SO4 2M panaskan, maka warna ungu hilang menjadi bening
· Seujung spatula cuplikan + 1ml K2CrO4 0,1M + 5 tetes H2SO4 2M panaskan maka larutan menjadi hijau
i.        CO3-
· 1 ml cuplikan + 5 tetes CaCl2 0,1M               ↓ putih larut dalam HCL 2M
· Seujung spatula Kristal cuplikan + 2  ml HCL 2M menghasilkan gelembung-gelembung udara
j.        PO42-
· 1 ml larutan cuplikan + 5 tetes NH4Cl 1M + 5 tetes NH4OH 1M + 0,5 ml MgCl2 0,1M menghasilkan endapan putih
k.      C2O42-
· 1 ml cuplikan + 1 ml CaCl2 0,1M                             endapan putih
· 1 ml cuplikan + 1 ml H2SO4 2M dipanaskan sampai 50oC-60oC + 4 tetes KMnO4maka warna ungu KMnO4 akan hilang
l.        MnO4-
Sama dengan oksalat
m.    SO42-
1 ml cuplikan + 1 ml BaCl2 1M                  endapan putih yang tidak larut dalam asam kuat
n.      CrO42-
· 1 ml cuplikan + 1 ml AgNO3 0,1M                      endapan merah tidak larut dalam asam asetat, tapi larut dalam asam kuat dan amoniak
· Sama dengan SO32-


III.        Daftar Alat
·        Tabung reaksi dan rak
·        Pipet tetes
·        Gelas kimia
·        Kaca arloji
·        Pengaduk
·        Spatula
·        Botol aquadest
·        Pipet ukur
·        Bola karet
·        Masker
·        Sarung tangan

IV. Daftar Bahan
a)        Reagen
·      Amoniak
·      AgNO3
·      Ba(NO3)2
·      CCL4
·      HCL
·      FeCL3
·      KMNo4
·      KI
·      H2SO4

b)       Cuplikan
·      PO4-2
·      I-
·      Cl-
·      NO22-




V.    Keselamatan Kerja
·          Menggunakan peralatan keselamatan kerja seperti sarung tangan dan masker untuk za-zat korosif dan toksik
·          Jangan memanaskan tabung reaksi berisi larutan langsung diatas api Bunsen, gunakan water banch ( penangas air)






VI      Langkah Kerja
·          Pengamatan Fisik
Melakukan  pengamatan fisik seperti warna, bau dan bentuk Kristal

·          Tes Kelarutan
Mengambil + 0,2 gr cuplikan dan meambahkan 2 ml air demineral. mengamati kelarutannya dalam air dingin. Bila tidak melarut letakan tabung reaksi di dalam gelas kimia yang berisi air mendidih. mengamati dan mencatat hasil hasil pengamatan yaitu warna dan pH larutan.
Bila cuplikan tidak larut dalam air dingin maupun panas, maka melakukan tes kelarutan dengan asam-asam berikut :
-         1 ml H2SO4  6M
-         1 ml HCL    6M
-         1 ml HNO3  6M

·          Analisa Golongan Anion
menemukan salah satu anion dengan cara mereaksikan asam kemudian melakukan reaksi identifikasi. Bila tidak ditemukan satu ion pun melalui reaksi dengan asam (tidak diperoleh hasil yang jelas melalui reaksi dengan asam), maka dilakukan klasifikasi golongan.
Dalam 2 tabung reaksi,masing-masing masukan 0,1 gr cuplikan dan 1-2 ml air dalam salah satu tabung reaksi tambahkan 1 ml AgNO3 0,1M dan tabung lainnya Ba(NO3)20,1M.Amati


VII        Data Pengamatan
·          Pengamatan Fisik

              Sifat Fisik/
No.Cup
Warna
Bau
Bentuk Kristal
Sampel I
Putih
Tidak ada
Butiran
Sampel II
Putih
Tidak ada
Bongkahan
Sampel III
Putih
Tidak adak
Butiran
Sampel IV
Putih
Tidak ada
Butiran

·          Tes Kelarutan

        Larutan/
No.Cup
Air Dingin
Air Panas
H2SO46M
HCl 6M
HNO36M
1
Larut
-
-
-
-
2
Larut
-
-
-
-
3
Larut
-
-
-
-
4
larut
-
-
-
-

·          Analisis Golongan Anion
a.      Pereaksi AgNO3 0,1M

No.Cuplikan
Pengamatan
Anion Yang Mungkin
Anion yang spesifik
1
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-
2
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-
3
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-
4
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-



b.      Pereaksi Ba(NO3)2 0,1M

No.Cuplikan
Pengamatan
Anion Yang Mungkin
Anion yang spesifik
1
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-
2
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-
3
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-
4
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-


VIII  Analisa Data

Ø  Pengamatan Fisik
Pada pengamatan fisik, kita melakukan pengamatan secara langsung. Sifat fisik yang diamati adalah warna, bau, dan bentuk keristal. pada sample 1, sifat fisiknya adalah warna putih, tidak berbau, dan bentuknya butiran. pada sample 2, sifat fisiknya adalah warna putih, tidak berbau, dan bentuknya bongkahan. pada sample 1, sifat fisiknya adalah warna putih, tidak berbau, dan bentuknya butiran. pada sample 1, sifat fisiknya adalah warna putih, tidak berbau, dan bentuknya butiran.

Ø  Tes Kelarutan.
Pada tes kelarutan, yang harus diakukan adalah mengambil 0,2 g sample dan menambahkan 20 ml air. Pada sample 1, mengambil 0,2 g sample 1 dan menambahkan 20 ml air, ternyata sample 1 larut dalm air. Pada sample 2, mengambil 0,2 g sample 2 dan menambahkan 20 ml air, ternyata sample 2 larut dalm air. Pada sample 3, mengambil 0,2 g sample 3 dan menambahkan 20 ml air, ternyata sample 3 larut dalm air. Pada sample 4, mengambil 0,2 g sample 4 dan menambahkan 20 ml air, ternyata sample 4 larut dalm air.

Ø  Mengambil cuplikan sample1  yang telah dibuat pada tes kelarutan sebanyak 1 ml, dan meletakkanya pada 2 tabung reaksi yang berbeda. Kemudian pada salah satu tabung reaksi, menambahkan 0,5 ml AgNO3 0,1 M ternyata tidak ada endapan. Pada tabung yang lainnya menambahkan  0,5 ml Ba(NO3)2 0.1 M, ternyata endapan putih. Kemuudian menambahkan 1 ml HNO3 1M, ternyata tidak larut. Maka dapat disimpulkan bahwa sample 1 mengandung SO42- dan termasuk golongan 6.
Ulangi lagkah ini, pada sample 2 sampai sample ke-4.


IX.   Pertanyaan
1.      Apakah perbedaan antara analisis kualitatif dan analisis kuantittatif ?
2.      Tuliskan sifat-sifat fisik dan kimia dari cuplikan yang anda analisis (4 cuplikan) ?
3.      Tuliskan 5 reaksi anion pada reaksi spesifik ! Apakah warna endapan yang dihasilkan?

Jawaban :

1.        Analisis Kualitatif adalah analisis untuk mengetahui suatu unsur / senyawa yang ada dalam suatu zat.
       Analisis Kuantitatif adalah analisis untuk mengetahui jumlah kandungan dari suatu zat. Berarti analisis kuantitatif membutuhkan ketepatan dan ketelitian.

2.  Sifat Fisik (sampel 1)      : - bewarna putih
                                           - tidak ada bau khas
                                           - bentuknya butiran

Sifat Kimia (sampel 1)         :  - jika tabung reaksi I yang berisi cuplikan 
                                                  dilarutkan dengan AgNO3 0,1M sampel maka tidak                            
                                                  membentuk larutan dan membentuk endapan  putih
Sifat Fisik (sampel 2)           : - bewarna putih
                                                  - tidak ada bau
                                                  - bongkahan

Sifat Kimia (sampel 2)         : - jika tabung reaksi I yang berisi cuplikan 
                                                  dilarutkan dengan AgNO3 0,1M sampel maka tidak                            
                                                  membentuk larutan dan membentuk endapan putih

Sifat Fisik (sampel 3)           : - bewarna putih
                                                  - tidak ada bau
                                                  - butiran



Sifat Kimia (sampel 3)         : - jika tabung reaksi I yang berisi cuplikan 
                                                  dilarutkan dengan AgNO3 0,1M sampel maka tidak                            
                                                  membentuk larutan dan membentuk endapan putih

Sifat Fisik (sampel 4)           : - bewarna putih
                                                  - tidak ada bau
                                                  - butiran

Sifat Kimia (sampel 4)         : - jika tabung reaksi I yang berisi cuplikan 
                                                  dilarutkan dengan AgNO3 0,1M sampel maka tidak                            
                                                  membentuk larutan dan membentuk endapan  putih

3.   a. Ag+    +   Cl-                                                   AgCl(s) ↓ putih

b. Ag+    +   Br-                                               AgBr ↓ kuning putih

c. Fe3+    +   3SCN                                         Fe(SCN)3 ↓ merah  
                                                                                                       bata

d. Pb2+    +  S2-                                               PbS(s) ↓ hitam

e. Co32-   +  Ca2+                                            CaCO5  ↓ putih

X. KESIMPULAN
Ø  Analisis Kualitatif adalah analisis untuk mengetahui suatu unsur / senyawa yang ada dalam suatu zat.
Ø        Analisis Kuantitatif adalah analisis untuk mengetahui jumlah kandungan dari suatu zat. Berarti analisis kuantitatif membutuhkan ketepatan dan ketelitian.
Ø   Analisis Golongan Anion
a.      Pereaksi AgNO3 0,1M

No.Cuplikan
Pengamatan
Anion Yang Mungkin
Anion yang spesifik
1
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-
2
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-
3
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-
4
Tidak ada endapan
Golongan  :
SO42-
SO42-

b.      Pereaksi Ba(NO3)2 0,1M

No.Cuplikan
Pengamatan
Anion Yang Mungkin
Anion yang spesifik
1
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-
2
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-
3
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-
4
   Putih, tidak larut dalam HNO3 1M
Golongan  :
SO42-
SO42-

Ø  Walaupun masing-masing sample mempunyai bentuk yang berbeda, tetapi memiliki anio yang sama
XI. Daftar pustaka
Jobsheet, 2013. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Dasar. Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang.